Demokrasi dalam Hak Berekspresi bagi Warganet di Rusia

Seorang single-mother berusia 46 tahun, yang juga adalah seorang penjaga toko di Ekaterinburg, yang bernama Ekaterina Volgozheninova, harus menjalani proses pengadilan selama beberapa tahun akibat dari status animasi satir yang diunggahnya sosial media. Kejadian ini berlangsung sejak akhir tahun 2014 hingga tahun 2016, di Ekaterinburg. Dalam kasus ini, 2 tokoh penting yang terlibat adalah Ekaterina Volgozheninova sebagai individu dan pihak yang berwenang atau pemerintah Rusia.

Pada tahun 2014, Ekaterina Volgozheninova mengunggah sebuah gambar animasi satir di dalam akun VKontake[1] milikinya, yang dikunci dan hanya diikuti oleh 4 pengikut. Dalam gambar tersebut terdapat tokoh animasi yang menyerupai Presiden Federasi Rusia, yaitu Vladimir Putin, yang sedang berada di atas peta Ukraina sambil memegang pisau. Hal ini membuat Ekaterina Vogozheninova ditangkap oleh pihak yang berwenang, karena perbuatannya dianggap sebagai sesuatu yang ditujukan untuk menghasut dan menyebar kebencian terhadap negara. Tuduhan resmi yang diberikan kepada Ekaterina Volgozheninova adalah untuk menghasut kebencian terhadap orang-orang Rusia, relawan Rusia yang bertempur di sisi pemberontak bagian timur Ukraina, penguasa, dan penduduk timur Ukraina yang tidak mendukung jalannya politik Ukraina modern. Pihak yang berwenang menangkap Ekaterina Vologzhenina dan menggeledah apartemennya, pada tanggal 12 Desember 2014. Dia didakwa berdasarkan Pasal 282,1 KUHP Federal Rusia.  Ekaterina Vologzheninova terancam hukuman 5 tahun penjara apabila terbukti bersalah. Dalam masa investigasi, pihak yang berwenang memanggil ahli psikolinguistik untuk menganalisis status satir  dalam akun Volgozheninova dan mewawancarai teman-temannya.

Menurut laman HRW.org, yang diterbitkan tanggal 18 Juli 2017, tuduhan terhadap Vologzheninova tidak hanya karena animasi satir tersebut, melainkan dalam akun VKontake milik Vologzheninova terdapat beberapa status lain, seperti puisi yang mengkritik tentang aneksasi Rusia terhadap Krimea. Dalam puisi tersebut Ekaterina Vogozheninova mengkritik aksi Rusia di Ukraina, dengan menampilkan gambar yang mengingatkan pada poster di zaman Uni Soviet dan menuliskan caption “Hentikan wabah” serta “Kematian untuk penyerang Moskow.” Di bulan April 2016, keputusan untuk kasus Ekaterina Volgozheninova dijatuh banding dan Volgozheninova mendapat hukuman bekerja secara kompulsif selama 320 jam dan diperintahkan untuk menghancurkan semua barang yang berpartisipasi dalam kejahatannya, seperti laptop, mouse, dan charger. Dapat penulis katakan kasus ini dapat terjadi akibat dari demokrasi yang tidak terlaksana dengan baik di negara Federasi Rusia, sehingga hal ini secara tidak langsung menekan dan membatasi hak kebebasan rakyat Federasi Rusia untuk berekspresi dan mengutarakan pendapat. Akibatnya, kasus-kasus perampasan hak berpendapat atau berekspresi masih sering terjadi, bahkan sering juga dilakukan oleh negara yang berdaulat terhadap rakyatnya.

Pengertian dari kata demokrasi itu sendiri adalah rakyat berkuasa atau government by the people (kata Yunani demos berarti rakyat, kratos/kratein berarti kekuasaan/berkuasa)[2]. Konsep demokrasi memiliki berbagai macam istilah yaitu demokrasi konstitusional, demokrasi parlementer, demokrasi terpinmpin, demokrasi pancasila, demokrasi nasional, demokrasi soviet, dan sebagainya. Akan tetapi dari sekian banyak istilah demokrasi konstitusional merupakan istilah demokrasi yang ideal, karena istilah tersebut memiliki gagasan bahwa pemerintah yang demokratis adalah pemerintah yang terbatas kekuasaannya dan tidak dibenarkan bertindak sewenang-wenang tarhadap warga negaranya[3]. Selain itu, dalam Journal of DemocracyStrengthening Constitutionalism in Asia dikatakan bahwa demokrasi membutuhkan inklusi politik dan pertanggungjawaban publik yang hanya dapat dilakukan oleh intitusi liberal. Kesusksesan demokrasi telah lama bergantung pada intitusi liberal untuk memeriksa dan menyalurkan keinginan rakyat agar memungkinkan untuk melakukan debat bebas, melindungi hak-hak minoritas dan sebagainya. Demokrasi liberal merupakan demokrasi yang ideal untuk menciptakan penguasa-penguasa negara yang tidak otoriter dan memberi ruang kebebasan bagi masyarakatnya.

Perkembangan negara Federasi Rusia yang pernah menganut komunisme dan sekarang mulai menganut demokrasi, merupakan salah satu faktor yang akan membuat negara tersebut sulit menerapkan demokrasi liberal di dalam negaranya. Faktor historis dan budaya dapat dikatakan memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kesusksesan demokrasi di suatu negara. The Western-culture thesis has immediate implications for democratization in the Balkans and the Soviet Union. Historically these areas were part of the Czarist and Ottoman empires; their prevailing religions were Orthodoxy and Islam, not Western Christianity. These areas did not have the same experiences as Western Europe with feudalism, the Renaissance, the Reformation, the Enlightenment, the French Revolution, and liberalism.[4] (Tesis budaya-barat memiliki implikasi langsung terhadap demokrasi di Balkan dan Uni Soviet. Secara historis daerah-daerah ini adalah bagian dari kerajaan Czarist dan Kerajaan Ottoman; agama yang berlaku adalah Ortodoks dan Islam, bukan Kekeristenan Barat. Wilayah-wilayahnya tidak memiliki pengalaman yang sama seperti Erop Barat, dengan adanya feodalisme, masa Renaisans, masa Reformasi, masa Pencerahan, Revolusi Perancis, dan liberalism.)

Selanjutnya, menurut George Kennan dalam Journal of Demorcacy – Democracy’s Third Wave mengatakan bahwa democracy, in short, is appropriate only for Northwestern and perharps Central European countries and their settler colony offshoots. (Demokrasi, singkatnya, hanya cocok bagi Eropa Barat Laut dan mungkin negara-negara Eropa Tengah dan koloni-koloni mereka.) Negara yang pernah menganut rezim otoriter atau yang pernah diperintah oleh penguasa-penguasa yang otoriter dalam jangka waktu yang panjang cenderung sulit menerapkan demokrasi dan cenderung menjadi lawan bagi demokratisasi. Selain itu, presiden negara Federasi Rusia juga merupakan orang yang konservatif, yang mana sangat memegang teguh nilai-nilai tradisional. Sifat konservatif dari presiden Federasi Rusia juga menjadi faktor sulitnya demokrasi untuk berkembang. Beberapa faktor di atas menjelaskan mengapa pelaksanaan demokrasi di negara Federasi Rusia masih berbau otoriter dan belum ideal. Kemunculan kembali kekuasaan yang agaknya sudah cenderung otoriter di negara Federasi Rusia, dapat terjadi akibat dari sistem demokrasi yang tidak dilakukan dengan baik. Secara tidak langsung, lemahnya demokrasi di negara Federasi Rusia juga berpengaruh terhadap menguatnya kekuasaan yang otoriter, sehingga menimbulkan banyaknya pelanggaran HAM yang terjadi di negara tersebut.

Hak asasi manusia adalah seperangkat hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia secara alamiah. Hak-hak ini meliputi hak untuk hidup, hak kebebasan sipil, hak kebebasan politik, hak kebebasan dari penindsan, hak kebebasan berpendapat, dan sebagainya. Hak asasi manusia juga merupakan hak yang bersifat melekat pada semua orang setiap saat, tidak dapat dibeli maupun diciptakan, dan juga hak yang hanya dimiliki manusia karena semata-mata sebagai manusia yang bermartabat.[5] Dalam kasus ini, pemerintah Federasi Rusia dapat dikatakan telah melakukan pelanggaran HAM terhadap rakyatnya, karena telah merampas hak Ekaterina Volgozheninova untuk berekspresi di sosial media. Dilansir oleh laporan yang diterbitkan HRW.org, yaitu Online and On All Front: Russian’s Assault on Freedom Expresion, bahwa di negara Federasi Rusia beberapa tahun belakangan ini, terdapat juga orang-orang lain yang dianggap telah melakukan tindakan yang membenci dan menjatuhkan pemerintah atau melakukan tindakan ekstrimisme di sosial media, sehingga membuat orang-orang tersebut dijatuhi tindak pidana, seperti Alexei Kungurov, Rafis Kashapov, Mykola Semena, Ruslan Sokolovsky, Konstantin Zharinov, Vadim Tyumentsev, Darya Polyudova, Ilmi Umerov, dan lainnya.

Sosial media merupakan sesuatu yang sudah umum dimiliki oleh masyarakat di abad ke-20. Hampir semua orang memiliki dan menggunakan sosial media untuk berkomunikasi di kehidupannya sehari-hari, baik masyarakat yang menengah ke atas dan menengah ke bawah. Selain itu, sosial media tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, seringkali sosial media digunakan sebagai sarana untuk menulis, mengutarakan pendapat, mengungkapkan perasaan akan sesuatu, menuliskan ungkapan ketidakpuasan, mencari hiburan, melihat berita, dan sebagainya. Social media have transformed the way we communicate, interact, and consume many kinds of information, including political information.[6] (Sosial media telah mengubah cara kita berkomunikasi, berinteraksi, dan mengkonsumsi segala jenis informasi, termasuk informasi politik.) Oleh karena itu, banyaknya orang yang  mengunakan sosial media, membuat sosial media dapat berperan penting dalam kesuksesan atau kejatuhan kepentingan politik, baik untuk menyebarkan paham-paham tertentu, menyebarkan propaganda, memenangkan pemilu, dan sebagainya. Misalnya, dalam pemilihan Presiden di Amerika tahun 2016, sosial media sangat berperan serta dalam pemilihan tersebut.

Dalam duni politik, sosial media telah dijadikan sarana untuk memberi suara kepada aktor-aktor demokratis yang berada di dalam sistem yang non-demokratis. Selain itu, dapat memberi suara kepada aktor-aktor anti-sistem yang berada di dalam sistem yang demokrasi. Social media have often been described as the site for conflict between “good” democratic forces who use social media to make their voices heard and “bad’’ autocratic and repressive forces who aim to censor this channel to silence these liberal elements[7]. (Sosial media sering dideskripsikan sebagai situs konflik antara gerakan demokrasi yang “baik”,  yang menggunakan sosial media untuk membuat suara mereka didengar dan gerakan autokrasi dan represif yang “buruk”, yang bertujuan untuk membungkam elemen-elemen yang liberal.) Penulis asumsikan bahwa sosial media telah mengubah struktur penyebaran informasi dan membuat individu semakin mudah untuk menyebarkan suatu berita ke orang banyak.  This creates a “many-to-many’’ structure of communication that differs from the traditional “one-to-many” structure, which allows only a few users (various elites, traditional media) to broadcast to the wider public[8] (Ini membuat sebuah struktur komunikasi “banyak-ke-banyak”, berbeda dengan struktur tradisional yang hanya memungkinkan bagi beberapa pengguna (beberpa media elit, media tradisional) untuk menyebarkan berita ke public yang besar.)

Sebagai akibat dari pengaruh kebebasan sosial media yang sulit untuk dihentikan, penguasa-penguasa yang merasa terancam oleh kebebasan di sosial media mulai membuat strategi atau taktik yang dirancang untuk mengeksploitasi kebiasaan struktur “banyak-ke-banyak” dengan cara memperkuat pesan rezim sambil meredam oposisi. Margaret Roberts, mengklasifikasikan 3 strategi negara menjadi 3 F, yaitu Fear, Friction, Flooding. Fear merupakan ketakutan dibalik sensor yang menghalangi, Friction merupakan penyensoran yang menunda, dan Flooding merupakan penyensoran yang mengalihkan perhatian atau membingungkan. Misalnya, para otokrat di Cina menciptakan taktik Friction dengan cara membuat sistem seperti “Great Firewall of China” untuk melakukan penutupan internet, menghapus status sosial media, dan manipulasi algoritmk hasil pencarian informasi yang tidak disukai oleh para penguasanya.

Jika penulis kembali melihat kepada kasus Ekaterina Volgozheninova dan beberapa orang lainnya yang memiliki kasus serupa, dapat dikatakan bahwa pemerintah Federasi Rusia sedang berusaha melakukan strategi Fear dan Friction untuk membuat para oposisi pemerintah takut dan berhenti melakukan aksinya. Pemerintah berusaha menyebarkan ketakutan kepada rakyat dengan menangkap dan menindak pidana orang-orang yang telah menentang pemerintah, membenci pemerintah, atau dianggap telah menghasut dengan menyebar kebencian terhadap pemerintah, sehingga rakyat tidak berani menjatuhkan pemerintahan yang berkuasa. Hal ini juga diungkapkan oleh Yulia Gorbunova seorang peneliti Rusia di Human Right Watch, dalam laman HRW.org yang berjudul Witness Russians New Normal, yang ditulis sebagai berikut “They only need to have a few trials like this to make everyone scared to speak out” Gorbunova said. “Ekaterina’s case can be viewed as part of the new norm for Russia” (“Mereka hanya perlu beberapa kasus seperti ini untuk membuat semua orang takut untuk berbicara” kata Gorbunova. “Kasus Ekaterina dapat dilihat sebagai bagian norma baru di Rusia.)

Kasus Ekaterina Volgozheninova merupakan salah satu bukti bahwa negara Federasi Rusia masih tidak dapat dikatakan sebagai negara yang demokrasi, meskipun negara tersebut telah mengakui diri sebagai negara demokrasi. Negara demokrasi yang ideal seharusnya tidak melakukan pelanggaran HAM terhadap warga negaranya. Dari kasus Ekaterina Volgozheninova sangat terlihat bahwa pemerintah negara Federasi Rusia masih berusaha untuk mengontrol dan membatasi kebebasan rakyatnya untuk mengutarakan ekspresi dan pendapat. Kemungkinan dari lemahnya demokrasi yang terdapat di Federasi Rusia, karena faktor historis negara tersebut yang berbeda dengan negara Eropa Barat. Negara Federasi Rusia tidak mengalami masa-masa Pencerahan, Reformasi, Revolusi Perancis, yang mana pengalaman tersebut memberi pengaruh dan pengalaman terhadap proses demokrasi liberal. Salah satu sifat penguasa di Federasi Rusia saat ini yang sangat konservatif pun menjadi faktor mengapa Rusia sulit untuk memberikan kebebasan kepada rakyatnya. Selain itu, akibat dari lamanya rezim otoriter yang memerintah di negara tersebut sejak masa Kekaisaran Rusia dan masa Uni Soviet, membuat negara tersebut tidak memiliki teladan atau pengalaman tersendiri dalam memerintah negara yang demokrasi.

 

Daftar Pustaka:

Alkatiri, Zeffry. (2010). Belajar Memahami HAM. Jakarta: Ruas.

Budiarjo, Miriam. (2015). Dasar-Dasar Ilmu Politik (Edisi Revisi ketiga). Jakarta: PT Gramdeia Pustaka Utama.

Davis, Michael. C. (2017). Strengthening Constitutionalism in Asia. Journal of Democracy, 28(4), 147-161.

Fish, M. Steven. (2017). What is Putinism. Journal of Democracy. Vol 28, No 4, Hlm 61-74.

Human Right Watch. (2017). Online and On All Front: Russia’s Assault on Freedom on Expression. America: Human Right Watch.

Huntington, Samuel. P. (1991). Democracy’s Third Wave. Journal of Democracy, 2(2), 19-34.

Right in Russia. (Okt, 2015). People of the Week: Ekaterina Volgozheninova. Right in Russia. Dilihat pada 19 Desember 2017 (20.47 WIB) <http://www.rightsinrussia.info/person-of-the-week/ekaterinavologzheninova&gt;

Stewart, Phillipa. H. (2017). Witness: Russia’s New Normal. Human Right Watch. Dilihat pada 19 Desember 2017 (22.30 WIB) <https://www.hrw.org/news/2017/07/18/witness-russias-new-normal&gt;

Tucker, Joshua. A. (2017). From Liberation to Turmoil: Social Media and Democracy. Journal of Democracy,  28( 4), 46-59.

gambar: https://www.google.co.id/search?q=ekaterinavologzheninova&rlz=1C1AVNE_enID672ID680&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwilxMTW06jcAhUaXn0KHfkLBUYQ_AUICigB&biw=1304&bih=653#imgrc=aqGvb_9k46nYAM:

[1] Situs jejaring sosial terbesar di Rusia yang dirilis tahun 2006 dan dioperasikan oleh Mail.Ru.

[2] Budiarjo, 2015, hlm. 105.

[3] Ibid., hlm 107

[4].Huntington, 1991,  hlm. 23.

[5] Alkatiri, 2010, hlm. 2

[6] Joshua A. Tucker, 2017, hlm. 48.

[7] Ibid., hlm. 47.

[8] Tucker, 2017, hlm. 49.

Advertisements

Sinopsis Novela ‘Sonechka’ (СОНЕЧКА) – Lyudmila Ulitskaya

Sonechka adalah seorang gadis yang sejak kecil gemar membaca buku. Dia berasal dari keluarga sederhana. Setelah Sonechka lulus sekolah, dia bekerja di sebuah perpustakaan dan tidak lama kemudian mengambil kuliah jurusan filologi Rusia. Saat perang dunia kedua dimulai, Sonechka dan keluarga dievakuasi ke daerah Sverdlovsk. Di tempat evakuasi, Sonechka pun mendapat pekerjaan di ruang bawah tanah perpustakaan.  

Suatu hari, saat sedang bekerja, datang Robert seorang seniman paruh baya, yang meminjam buku-buku Perancis. Robert adalah seorang seniman yang terkenal di Perancis, yang kemudian kembali ke Rusia dan sedang menjalani masa pengasingan. Pada kunjungan Robert yang kedua, tanpa ragu dan basa-basi, Robert melamar Sonechka untuk menjadi istrinya dan Sonechka setuju.

Selama beberapa saat mereka menjalani kehidupan rumah tangga di Sverlovsk bersama orangtua Sonechka, namun sebulan sebelum kelahiran bayi yang dikandung Sonechka, Robert ditugaskan untuk pindah ke desa Bashkir, Devlekanovo untuk menjalani pengasingan di sana. Tidak lama setelah tiba di Bashkir, Sonechka pun melahirkan seorang bayi perempuan, yang dinamai Tanya.

Suatu ketika, salah satu kerabat Robert, yakni Gavrilin menemukan kabar dari sebuah jurnal American Art History  yang menuliskan bahwa Robert telah meninggal pada tahun 1930 di pengasingan era Stalin dan keesokan harinya di perpustakaan Artists’ Union, Robert melihat artikel bahwa salah satu karyanya telah diakui oleh orang lain bernama Morandi. Kemudian Robert dan temannya marah akan hal tersebut, namun hal ini memberi dampak positif bagi karir Robert, yaitu Robert diterima sebagai member dari Artists’ Union dan mendapat sebuah studio kerja.

Seperti ayahnya, Tanya tumbuh menjadi seniman yang sangat populer. Bakatnya dalam bermain flute sangat dikagumi oleh musikus dan laki-laki di sekitarnya. Dia sangat suka bermain alat musik flute, namun sangat buruk dalam bidang akademik. Suatu saat, Tanya tidak naik ke kelas sembilan, sehingga Tanya dipindahkan ke sekolah sore.

Di sekolah barunya, Tanya bertemu dengan Jasia, yang kemudian menjadi teman dekat dan diam-diam Tanya jatuh cinta kepada Jasia. Di malam tahun baru, Jasia menerima undangan pesta di rumah Tanya dan diizinkan menginap di dalam studio Robert karena kosong. Pada pagi setelah pesta, Robert masuk ke studio untuk mencari sebuah gulungan, namun Jasia terbangun dan dia menggoda Robert untuk bersetubuh dengannya.

Beberapa hari setelahnya, Sonechka mengizinkan Jasia untuk tinggal di rumahnya. Tidak lama sejak Jasia tinggal di rumah Sonechka, Robert pun semakin jatuh cinta terhadap Jasia dan kembali memulai perselingkuhan mereka. Pada akhirnya, Sonechka pun mengetahui hubungan tersebut, namun Sonechka tetap menyayangi dan mengizinkan Jasia tinggal bersama-sama dengan keluarganya. Tidak lama setelah Tanya mengetahui hubungan tersebut, dia memutuskan untuk pergi dan tinggal di Pitersburg.

Saat Robert meninggal dunia, Jasia pergi meminta bantuan keapada Sonechka. Mereka menyusun pemakaman untuk Robert dan kemudian Jasia tinggal bersama dengan Sonechka. Tanya dikisahkan sempat menikahi Alyosha, kemudian bercerai dan mendapat pekerjaan di PBB. Tak lama setelah itu, Jasia pun menikahi seorang laki-laki Perancis dan Sonechka tinggal seorang diri di apartemennya.

 

Kritik pada Film Служебный Роман (Office Romance)

Служебный Роман atau Office Romance merupakan film produksi pada masa Uni Soviet yang dirilis pada tahun 1977. Film yang berdurasi 159 menit ini, disutradarai oleh Eldar Ryazanov, ditulis oleh Eldar Ryazanov dan Emil Braginsky, dan dibintangi oleh Andrey Myagkov dan Alisa Freindlich sebagai pemeran utamanya. Служебный Роман mengambil tema percintaan komedi yang berlatar tempat di sebuah perkantoran.

Служебный Роман adalah film yang cukup menghibur para penontonnya. Seperti film percintaan pada umumnya film ini memiliki alur yang sama yaitu pemeran utamanya memiliki perasaan benci diawal dan lama kelamaan berubah menjadi cinta. Selain itu untuk ukuran Asia alur film ini merupakan film katagori komedi yang biasa saja dan tidak terlalu lucu, akan tetapi musikalisasi yang jenaka dalam film ini sangat mendukung sehingga membuat film menjadi bernuansa sangat lucu.

Pemilihan pemain dalam film Служебный Роман sangatlah tepat, misalkan saja Andrey Myagkov yang memerankan Anatoly Yefremovich Novoseltev sebagai seorang duda dua anak yang ceroboh. Sifat kaku, pemalu, dan ekspresi yang diperankan Myagkov sangatlah cocok untuk peran Novoseltev. Begitu juga dengan lawan mainnya Alisa Freindlich yang memerankan Ludmila Prokofievna Kalugina sebagai seorang wanita yang tegas, galak, dan tidak feminism. Para pemain pendukungnya juga sangat baik dalam memerankan perannya masing – masing sehingga membuat film menjadi menarik untuk ditonton.

Dengan menonton film Служебный Роман, penonton juga dapat melihat konteks – konteks budaya yang terjadi pada zaman itu. Dalam film ini terlihat sangat jelas kalau wanita Rusia pada tahun 70an sudah memiliki kesetaraan yang sama seperti kaum pria. Banyak dari mereka yang sudah bekerja di kantor, bahkan dalam film ini diperlihatkan bahwa wanita juga sudah bisa menjadi boss di dunia pekantoran. Salah satu contoh gaya hidup yang ditampilkan di film Служебный Роман adalah perilaku para wanita di sana yang sangat memperhatikan penampilan mereka. Hal ini terlihat dalam adegan pada pagi hari, tepatnya sebelum jam kerja di mulai. Saat itu seluruh pekerja wanita yang sudah berada di kantor, secara bersamaan mempercantik wajah mereka dengan menambahkan make-up, dari wanita yang masih muda hingga wanita yang sudah agak tua.

Pada saat menonton film Служебный Роман penonton dapat melihat dengan jelas kalau kasus perselingkuhan masih sangat taboo  bagi masyarakat di sana. Misalnya dalam kasus Olga Ryzhova yang memiliki perasaan terlarang ke Yuri Samokhvalov yang sudah memiliki isteri. Saat para pekerja di kantor mengetahui hal tersebut Ryzhova pun langsung di jauhi dan menjadi omongan orang – orang di kantor.

Hanya saja alur dalam film Служебный Роман sangatlah cepat, konflik dalam film ini masih kurang mencekam. Begitu juga dengan akhir dari film-nya yang masih kurang membuat penonton terkesan. Menurut penulis, akhir dari film ini masih agak aneh dan agak menggantung. Proses pengambilan gambarnya juga masih kurang bagus, karena masih banyak adegan di zoom out tepat di wajah pemainnya. Tetapi secara keseluruhan Служебный Роман merupakan film yang bagus dan menarik untuk disaksikan.

THE CRIMEAN WAR by Rachel Narda

Abstract

Russia and Ottoman have several wars that we have known as Russo-Turkish Wars. These wars begins in 15th century until 19th century. One of those wars was Crimean War it happened in the 19th century in 1953 – 1956 and took place in Crimea Peninsula, Balkan Peninsula, and Baltic Sea. The root cause of Crimean War was the fear of Britain and France that Russia would increase its powers at expense of the declining Ottoman (Turkish) Empire, a problem known as the “Eastern Question”. Since the reign of Peter the Great, Russia had sought naval supremacy in the Black Sea and access to the Mediterranean. Hence Ottoman with help from Britain, French, and some other countries declare a war against Russia.

Keywords: Russia, Ottoman Empire, Britain, France, Crimea, Black Sea, Balkans.

 

Introduction

Crimea is the name of the peninsula that lies on the southern coast of Ukraine. It also became a silent witness of one of the bloodiest conflicts in Eastern Europe, The Crimean War. Crimean War was an armed conflict that occurred in 1853-1856 between Russia against the coalition of the Ottoman (Turkish), Britain, France, and Sardinia. The Crimean War not only take place in the Crimean, because some smaller battles also occurred outside of Crimea, mainly on the Balkan Peninsula and the Baltic Sea.

Since the sixteen century, the Russian Empire which was originally just a small empire in Eastern Europe managed a region with rapid expansion because their military expansion. Thus, in the middle of nineteen century Russia has a huge territory from Eastern Europe to Alaska in North America, however not many coastal areas that could be used by Russia’s large-scale shipping activities because every time winter comes, the Russian coastal areas will be filled by ice. There was Black Sea which water was never frozen in southwest Russia but the main problem for Russia is as the result of the geographical conditions of the Black Sea that juts deep into the mainland, the ships which coming or going to the Black Sea need to pass through the Bosphorus. Bosphorus itself at that time was controlled by the Ottoman Empire, the giant country that has poor relation with Russia.

Russia has ambitions to take the Ottoman territories that are on the Balkan Peninsula in order to get guaranteed power over the Bosphorus Strait. Another reason why Russia want to take the territories in the Balkan under their influence is because the majority of the population in Balkan are Christian Orthodox, the official religion of the Russian Empire. Russia also feel confident that they can beat the Ottomans in open warfare as the Ottoman military is now considered not as strong as the previous century as a result of rapidly increasing inequality in the development of military technology and European countries. It was the conditions that make the Emperor of Russia, Tsar Nicholas I, dare to call Ottoman as the “Sick Man of Europe.”

In order to get allies to create Russia’s ambition, Russia talks with other European countries such as Britain, France, and Austria. Instead of agreeing to help, leaders of the countries had actually rejected the wishes of Russia and prefers to let the Ottoman territory remained intact. The main reason why those countries had refused Russia’s desire is because if Russians could gain the direct access to Mediterranean Sea, Russia will become more powerful and more easily threaten the existence of Western European countries directly.

Each country also has its own particular reason to reject the ambitious plan of Russia. Britain had colonies in India and considers Ottoman as a trading partners and all at once as the fastest access path toward India. If Russia allowed to develop his power until it reaches the Mediterranean, Britain’s interest which involving Ottoman and Indian feared to be interrupted. Meanwhile France rejects Russia’s plans because the French still hold a grudge after defeated Russia in the Napoleonic Wars.

Austria refuses to worry if the war between Russia and Ottoman really broke out in Balkan, Austria can no longer use the river Danube safely because estuaries are located in the Balkan. Beside those countries, there is also a kingdom named Sardinia, whose territory includes the northeast Italian peninsula and the island of Sardinia. Sardinia does not have any special enmity with Russia, but Sardinia later joined sent troops to help British and French in order to make the two countries willing to help Sardinia to unify the peninsula Italia through military path in the future.

Failure to get allies do not frustrate the intention of Russia to continue its plan to expand the territory. In July 1853, Russian sent troops to occupy the country Moldavia and Wallachia which is located in the northern region of Ottoman. Feeling threatened by the movement of Russian military, the Ottoman Sultan the asked for help to the countries of Western European. The Ottoman requests directly responded to by Britain, France, and Sardinia by sending their troops to help Ottoman. However as a result of marine technology at that time were still not as advanced as now, the troops of countries concerned may take many months  before arriving in Ottoman territory. Later, [1]the war was fought in the Balkans and the Crimea and became known as the Crimean War (1853-6).

 

During the War

In October 5, 1953 the Ottomans declared a war on Russia and marked as the official start of Crimean War. The declaration of war followed by the invation of Turkish troops to the north side of Danube River. At the same month, Kalafat fall into the hand of Ottoman, then the Ottoman forces managed to continue the trend of success after defeating Russian troops in Oltenita which located in the west of Kalafat on November 4. Unfortunately, Ottoman failed to transmit the positive trend of success to the sea front, so in the end of November 1953 the Russia fleet defeated the Ottoman fleet at the Sinope, southern coast of the Black Sea.

In 1854 the war begins with the invasion of Russian ground forces to Dobruja, Ottoman territory which located in the south of Danube River. The invasion was successfully dammed by Ottoman troops and in July 1954, the Ottoman forces invaded Wallachia. Feeling unable to stop the movement of the Ottoman forces in the region, then Russia withdrew its army from Wallachia and Moldavia at the end of the same month. After the retreat of Russian troop, the Austrian troops throughout the war position as a neutral party entered Wallachia and Moldavia region so that there is no longer fight that took place in both regions.

Although Russian troops have withdrawn from Moldavia and Wallachia, the opposite countries of Russia chose to continue the war. Their main target was the military port of Russia in Sevastopol, Crimea, the northern coast of Black Sea. Russian opposite countries hoped that, if the Russian port along with their fleet of warships there successfully destroyed, Russia will not enough strength to dominate the Black Sea and reaches the Mediterranean Sea. Beside Crimea, the region of Baltic Sea which located in Northern Europe is also a region of British and French forces operation because if the naval and military bases of Russia in the Baltic Sea successfully destroyed, the road to invade Saint Petersburg will be open.

Anti-Russian coalition forces finally arrived on the west coast of Crimea in September 1854. In the same month, they were involved in the battles with Russian troops on the Alma River where coalition forces managed to come out as winners. After the defeat of Russian forces then they retreated and shifted their focus to Balaclava, the areas on the southern coast of Crimea which are used by the coalition forces as a place to put the logistics. Again, the Russian troops lost the battles because Balaclava defended by the coalition forces.

Successfully break the attack of Russian forces to Balaclava with 1200 more deaths on both sides, coalition forces begin assault on Sevastopol in October 1854. However the combination of the lack of heavy-caliber artillery stocks owned by the coalition forces to enter Sevastopol, period attack adjacent to the winter, less smooth logistics supply for the troops in the Crimea, and the disruption of Russian troops in other region of Crimea make the coalition takes a long time to seize Sevastopol.

In September 1855, Sevastopol finally fell into the hands of coalition forces. Before escaping out of the Sevastopol, Russian troops burned warships, and its own port facilities so it cannot be used by the coalition forces. Although coalition forces had captured the Sevastopol, the Russia still reluctant to wave a white flag. Only after Austria threatened to become a part of the coalition, Russia agreed to a ceasefire and negotiate with representatives undergo states opponent in Paris, France, in February 1856.

 

Post-War Condition

The result of negotiation in an agreement in Paris known as the “Treaty of Paris” on March 30, 1856. Under the treaty, the territorial water of Black Sea made sterile from warship (including Russian warship), the political status of countries such as Moldavia and Wallachia restored like the time before war, the security guarantees for the rights of Christians in Ottoman territory, and the area of Bessarabia which originally occupied by Russia should be submitted to the Ottoman. The launch of Treaty of Paris as well be the end of the Crimean War that has lasted for 3 years. [2] At the war’s end, Sultan of Ottoman issued his promised reform decree of 1886, discuss below; and the Treaty of Paris formally admitted the Ottoman Empire to the concert of Europe.

Crimean War is very bloody war, even to the size of the 19th century wars. The death toll in the coalition reached over 350.000 people, while in Russia around 220.000 inhabitants. Ironically the majority of deaths are not due to be killed in the conflict zone, but the consequences of lethal gastrointestinal diseases such as typhoid and cholera. The combination of severe ill treatment of British soldiers in the Crimea War and persistent campaign of Florence Nightingale and then push the British government did a major overhaul in the field of nursing and sanitation.

On the Russia’s side, the Crimean War is clearly a disgrace since the war ended with defeat of Russia and Russia’s failure to take over the Ottoman territories. Also because the Russian budget drained to finance the Crimean War, Russia was forced to sell Alaska to Unite State in 1867 with price of 7.2 million US Dollars. However, Russia also learn important lessons from the Crimean War that Russian military need a repair and modernization. A few years after the end of Crimean War, Russia rebuild their military fleet in the Black Sea which is an act breaks the contents of the Treaty of Paris.

On the side of Sardinia, this country’s participation in the Crimean War made the Sardinia managed to get sympathy of the French. And then, after Sardinia military campaign against Austria to unify the Italian peninsula, France is willing to help Sardinia. While in Central Europe, the depletion of the French and Russia as a result of Crimean War provide an opportunities for the Kingdom of Prussia to grow into a new power in Central Europe and created the unification of Germanic states into German Empire in 1871.

Crimean War also spawned a number of new things that we still can feel in this present day. For example, the name of “balaclava” will be s source of inspiration to call the cloth mask that covers the entire head and leaving only a hole in the eyes. The adoption of the name itself can occurred because during war in Crimea, the British troops covered his head with a cloth to protect their head from the cold. Battle of Balaclava also produced paintings and famous poem “The Charge of the Light Brigade” in memory of the soldiers who were killed by British equestrian instruction errors in the battles.

 

References

Slade, Aldhopus K.C.B. 2007. Turkey and the Crimean War: A Narrative of Historical Events. Microsoft Corporation: Internet Archive.

AS History: Unit 2. 2009. “The Crimean War (2)

Kasaba, Resat. 2008. The Cambridge History of Turkey. Volume 4: Turkey in the Modern World. New York: Cambridge University  Press.

Brackenbury, George. 1855. The Campaign in Crime: An Historical Sketch. London: Paul and Dominic Colnaghi Co., Pall Mall East.

 

[1] Resat Kasaba. The Cambridge History of Turkey “Volume 4: Turkey in the Modern World. (New York: Cambridge University  Press,  2008), page 42

[2] Resat Kasaba. The Cambridge History of Turkey “Volume 4: Turkey in the Modern World. (New York: Cambridge University  Press,  2008), page 42

 

p.s: my 2nd semester 🙂

Analisis Film Служебный Роман (Office Romance)

Film Служебный Роман atau dalam bahasa Inggris Office Roman merupakan film yang disutradarai oleh Eldar Ryazanov dan yang ditulis juga oleh Eldar Ryazanov dan Emil Braginsky. Film ini dirilis untuk pertama kalinya pada tahun 1977. Film ini berdurasi 159 menit dan bertema percintaan dari Rusia pada zaman Soviet, lebih spesifik lagi dirilis pada tahun 1976. Служебный Роман dibintangi oleh Andrey Myagkov dan Alisa Freindlich sebagai pemeran utamanya.

Служебный Роман bercerita tentang Anatoly Yefremovich Novoseltev seorang duda dua anak yang ceroboh, yang mana sedang berusaha menaikkan posisinya di kantor. Dengan bantuan teman lamanya Yuri Samokhvalov, ia berusaha mendekati bos-nya Ludmila Prokofievna Kalugina yang sangat tegas  dan independen. Selama masa pendekatannya tersebut Novoseltev dan Ludmila saling jatuh cinta, dan Novoseltev pun membatalkan tujuan utamanya dan focus menjalani hubungannya dengan Kalugina. Selain itu di film ini, diceritakan juga tentang kerabat dekat dari Novoseltev, yakni Olga Ryzhova yang memiliki perasaan terlarang dan sering mengirimi surat cinta ke Yuri Samokhvalov. Suatu hari Verochka menemukan surat cinta tersebut dan memberitahukan gossip ini ke seluruh pegawai. Pada saat yang sama juga Samokhvalov dengan sengaja memperlihatkan surat-surat tersebut ke salah satu pegawai yang bernama Shura dengan alibi agar Samkhvalov dan Shura dapat menasehati Olga untuk menjauhi Smokhvalov, dan juga membuat Samokhvalov menjadi tidak bersalah dalam gossip ini. Saat Novoseltev mengetahui tindakan Samokhvalov ini, Novoseltev marah dan merasa tindakan Samokhvalov dengan memasukan pihak ketiga ke dalam urusan pribadi mereka adalah salah, sehingga ia memukul Samokhvalov. Beberapa saat setelahnya, Novoseltev dan Kalugina pun resmi berpacaran dan Samokhvalov memanfaatkan keadaan ini untuk membalaskan pukulan dari Novoseltev. Samokhvalov memberitahukan rencana awal Novoseltev, bahwa Novoseltev mendekati Kalugina untuk menaikkan jabatannya. Awalnya Kalugina percaya dan marah terhadap Novoseltev, tetapi pada akhirnya Kalugina tahu kalau Novoseltev sudah benar-benar mencintainya. Pada akhirnya cerita Novoseltev dikabarkan memiliki tiga anak bersama Kalugina.

Secara intrinsik Служебный Роман memiliki tema tentang percintaan, percintaan komedi dikalangan perkantoran. Dari segi alur, film ini memiliki alur yang maju. Film ini mengambil latar tempat di Moskow, dan seperti judulnya yang dalam bahasa Inggris berarti Office Romance, film ini juga lebih sering menggunakan kantor dan daerah sekitarnya sebagai latar tempat. Seperti kebanyakan film pada masanya, latar waktu pada tahun 1970an dalam Служебный Роман, terlihat dari kualitas kameranya yang masih kurang bagus jika dibandingkan pada masa kini, penampilan para pemainnya, dan juga konstruksi bangunan-bangunannya. Tokoh utama dalam film ini adalah Anatoly Yefremovich Novoseltev dan Ludmila Prokofievna Kalugina. Selain itu terdapat juga tokoh lain seperti Olga Ryzhova, Yuri Samokhvalov, dan Verochka.

Anatoly Yefremovich Novoseltev adalah orang yang ramah, baik hati, penyayang, pemalu, perhatian, kurang pengalaman dalam percintaan, dan agak ceroboh. Terlihat dari bagaimana cara Novoseltev bertindak terhadap Kalugina dan bagaimana cara ia berbicara yang agak sedikit gagap saat di depan Kalugina. Ludmila Prokofievna Kalugina adalah wanita berusia 36 tahun yang berpenampilan sangat kuno, sehingga membuatnya terlihat lebih tua daripada usia sebenarnya. Kalugina yang belum menikah, dan ia juga masih kurang pengalaman dalam percintaan, dan memiliki sifat tegas, disiplin, cerdas, berwibawa, dan suka mengatur. Olga Ryzhova merupakan sahabat baik dari Novoseltev yang melankolis, ramah, baik hati dan agak genit. Yuri Samokhvalov juga sahabat lama dari Novoseltev, dia adalah pria yang cerdas, berwibawa, dan juga pendendam. Selain itu, terdapat Verochka yang adalah sekertaris dari Kalugina, dan dikenal sebagai wanita yang ceria, penuh semangat, dan memiliki rasa penasaran yang tinggi.

Secara ekstrinsik, film ini menggunakan latar pada masa Soviet, yang mana perselingkuhan masih dianggap tabu di sana. Dalam Служебный Роман dikisahkan bahwa Ludmila Prokofievna Kalugina adalah direktur di sebuah perusahaan dan Anatoly Yefremovich Novoseltev adalah bawahannya. Tidak seperti zaman Kekaisaran yang didominasi oleh kaum pria sebagai pemimpin. Dalam film ini terlihat bahwa di zaman Soviet pada tahun 1976 kesetaraan anatara pria dan wanita sudah dianggap sama. Hal ini terlihat dari sudah banyaknya para wanita yang bekerja di kantor dan memiliki jabatan yang lebih tinggi dari pada pria.

Selain itu, terdapat kisah tentang Olga Ryzhova seorang ibu yang masih bersuami, yang jatuh cinta lagi dan sering mengirimi surat cinta terhadap teman lamanya, Yuri Samakhvalov yang juga sudah beristri.. Pada saat Verochka mengetahui tentang surat cinta tersebut, gosip tentang mereka pun langsung tersebar dengan pesat. Hal ini membuat Ryzhova menjadi gunjingan pegawai-pegawai di kantor.

Secara struktural pengambilan gambar dalam film Служебный Роман dapat terlihat jelas pada adegan-adegan yang serius. Pada adegan- adegan yang memiliki percakapan yang agak serius, dapat dilihat kalau si cameraman akan mengambil gambar pemain secara close Up. Misalnya pada percakapan-percakapan antara Novoseltev dan Kalugina pada menit ke 00:07:46 dan 00:32:10 di seri pertama dan saat Ryzhova menangis sedih karena gossip yang beredar tentang dirinya pada menit ke 00:24:48 di seri pertama.

Begitu juga dengan musik pengiring filmnya, khususnya pada adegan-adegan yang menjurus ke tema percintaan, si pemusik akan memainkan musik yang ceria dan santai. Dan karena ini merupakan film romantis komedi, si pemusik juga memainkan music yang membuat adegan terasa semakin romantis dan juga humoris, misalnya pada menit ke 00:28:25 di seri pertama. Selain itu, efek musik juga terasa pada saat adegan yang sedih. Pemusik akan memainkan lagu sedih sesuai dengan suasana film pada saat sedang sedih. Contohnya dapat dilihat saat adegan Kalugina yang kecewa setelah mendengar ucapan dari Samokhvolov pada menit ke 00:51:20 di seri pertama.

 

P.S: Tugas matakuliah Pengantar Kesenian Rusia semester 3

Sinopsis Novel ‘Heart of a Dog’ (Собачье Сердце) – Mikhail Bulgakov

Sharikov adalah seekor anjing jalanan yang berada di sekitar jalan Prechistenka kota Moskow. Anjing tersebut sangat kurus, tidak terawat, dan sebagian tubuhnya melepuh karena disiram oleh koki di kantin dengan air panas. Setiap harinya anjing tersebut hanya mengemis makanan dari orang-orang sekitarnya, namun tidak jarang anjing tersebut mengalami patah tulang karena dipukul oleh orang sekitar.

Suatu sore, seorang profesor tua berumur 60 tahun yang bernama Philip Philipovich Preobrazhensky datang memberi Sharikov sepotong salami, kemudian Philip Philipovich membawa anjing tersebut pulang bersamanya ke apartemen. Setibanya di sana, Philip Philipovich yang berprofesi sebagai seorang dokter menyadari bahwa Sharikov memiliki luka akibat melepuh dan segera mengobati Sharikov di ruang operasinya. Di dalam apartemen, Sharikov tinggal bersama Profesor Philip Philipovich Preobrazhensky, muridnya Dr. Ivan Arnoldovich Bormental, juru masaknya Darya Petrovna Ivanova, dan pelayan wanitanya bernama Zinaida Prokofievna Bunina.

Selama berada di sana Sharikov menyadari bahwa Philip Philipovich adalah seorang dokter hebat yang sering melakukan banyak operasi melalui pasien-pasien yang sering berkunjung. Selain itu, Sharikov juga pernah melihat beberapa komite perumahan Bolshevik mendatangi apartemen Philip Philipovich karena ia yang hanya seorang diri dan belum berkeluarga tinggal dalam sebuah apartemen yang memiliki tujuh ruangan. Menurut ketua komite, Shvonder, seharusnya Philip Philipovich menampung beberapa orang lagi di dalam rumahnya, namun Philip Philipovich menolak dan memaksa untuk tetap memiliki apartemen tersebut seorang diri. Philip Philipovich dapat dikatakan adalah seorang anti-proletar. Oleh sebab itu, Philip Philipovich menolak aturan yang ditetapkan komite untuk berbagi tempat tinggal dengan orang lain.

Sharikov dirawat dengan sangat baik dan diberi makanan yang layak di sana, sehingga sekarang Sharikov menjadi gemuk dan sehat. Beberapa hari setelah Sharikov tinggal di apartemen, ia diberi sebuah kalung anjing. Awalnya Sharikov tidak mengerti maksud dan kegunaan dari kalung tersebut, namun setelah Zina mengajaknya berjalan-jalan seekor anjing jalanan memanggilnya “darah aristokrat” dan “penjilat sepatu”. Sejak saat itu ia mengerti bahwa sekarang Sharikov sudah bukan anjing jalanan dan memiliki majikan.

Suatu hari, Sharikov terbangun dengan sebuah firasat buruk. Ia mendengar bahwa ada seseorang yang meninggal dunia dan segera Philip Philipovich, Bormental, Darya Petrovna, dan Zina mengadakan rapat di ruang khusus. Selama rapat tersebut, Sharikov dikurung dalam kamar mandi. Setelahnya, Zina datang mengambil Sharikov. Dia melepas kalung Sharikov, membiusnya, dan meletakannya di atas meja operasi.

Selanjutnya, Philip Philipovich dengan bantuan Bormental, melakukan operasi untuk merubah tubuh Sharikov. Pertama-tama mereka mencukur bulu yang ada di tubuh dan kepala Sharikov, lalu diikuti dengan mengganti organ tubuhnya dengan organ tubuh manusia, seperti alat kelamin, paru-paru, otak, kecuali jantungnya.

Tubuh Sharikov ditransplantasi dengan organ laki-laki berusia 28 tahun yang telah meninggal kurang lebih 4 jam sebelum Sharikov dioperasi. Beberapa hari setelahnya, Sharikov mengalami pergantian bulu, mengerang kecil dan tidak pernah menggonggong lagi. Dia mulai dapat berbicara, mulai bisa berpakaian, mulai belajar dan bisa membaca. Tubuhnya perlahan-lahan berfungsi seperti manusia normal. Manusia dengan naluri anjing.

Pada saat akhir bulan Januari Philip Philipovich mencoba mengajak bicara Sharikov setelah mengetahui kebiasaan buruknya yang sangat suka berkata kasar dan mereka terlibat pembicaraan sengit. Sharikov memaksa untuk dibuatkan dokumen resmi tentang dirinya jika tidak maka dia akan mengancam menuntut tindakan Philip Philipovich terhadap dirinya. Philip Philipovich setuju dan Sharikov memilih nama Polygraph Polygraphovich Sharikov. Pada suatu hari, Sharikov mengunci dirinya di kamar mandi dan menyalakan keran air sambil mengejar kucing untuk memuaskan naluri anjingnya. Hal ini mengakibatkan kegaduhan dan air yang meluap menuruni tangga sehingga para pasien yang memiliki janji temu dengan Philip Philipovich harus dipulangkan. “You know, Sharikov,” remarked Philip Philipovich, taking a deep breath, “I have never seen a more brazen creature than you.”. Dalam kutipan tersebut terlihat sangat jelas bahwa Philip Philipovich sangat kesal dengan apa yang telah Sharikov lakukan.

Sharikov mulai sering membaca buku tentang ideologi Engles, Kautsky, dan lainnya. Ia juga mulai sering meledek Philip Philipovich yang tidak suka dengan Bolshevik. Semakin lama keadaan di rumah menjadi semakin tegang. Sharikov pun akhirnya mendapat dokumen resmi dirinya dan ingin dipanggil dengan namanya dan nama ayahnya Polygraph Polygraphovich, namun Philip Philipovich menolak dengan mengancam untuk mengusir Sharikov dari apartemen dan tidak memberinya makan. Sharikov pun menurut dan menjadi sangat pendiam, namun Sharikov terus membuat masalah, seperti saat ia melukai pipinya dengan menggunakan pisau cukur, sehingga membuat Philip Philipovich dan Bormental harus menjahit lukanya. Atau ketika dia tidak mengaku kalau dia mencuri uang dan pernah membawa dua orang asing pulang dengan keadaan mabuk.

Kejadian tersebut membuat Philip Philipovich merasa gagal atas operasi yang dilakukannya. Dia mengatakan kepada Bormental bahwa tujuannya melakukan operasi menggabungkan organ tubuh manusia dan hewan adalah untuk meningkatkan sifat dan karakter alami manusia agar menjadi semakin lebih baik, tetapi yang terjadi adalah hati anjing yang setia dan penyayang menjadi terpengaruh oleh sifat manusia yang buruk, sehingga tidak ada bedanya dengan manusia lainnya. Saat Philip Philipovich sedang bercakap-cakap dengan Bormental, Darya Petrovna datang dan melaporkan bahwa Sharikov sedang mabuk dan melakukan percobaan asusila terhadap Zina dan dirinya. Bormental marah besar dan hampir membunuh Sharikov, namun dilarang oleh Philip Philipovich.

Keesokan paginya, Sharikov menghilang dari apartemen. Bormental pergi ke komite perumahan untuk melihat apakah dia ada di sana, tetapi ia tidak menemukannya. Penjaga pintu apartemen, Fyodor pun mencari di sekitar gedung apartemen tapi ia juga tidak menemukan Sharikov. Zina dan Darya sangat senang Sharikov melarikan diri. Pada malam hari Sharikov pulang dan mengatakan bahwa ia sudah mendapat pekerjaan sebagai “direktur sub-bagian” untuk membersihkan kota Moskow dari hewan-hewan liar (kucing, dan lain-lain) dari Administrasi Properti Komunal Moskow melalui rekomendasi dari Shvonder. Sharikov pun mulai sibuk bekerja pergi pagi dan pulang malam.

Beberapa hari kemudian, Sharikov tiba-tiba pulang dengan seorang perempuan. Ia akan menikahi perempuan tersebut dan memaksa untuk tinggal bersama-sama di apartemen Profesor. Profesor tidak menggubris permintaan tersebut, justru mengajak calon istri Sharikov untuk berbicara secara personal. Dalam pembicaraan kedua orang tersebut, diungkapkanlah bahwa Sharikov merupakan produk hasil eksperimen yang gagal. Perempuan itu langsung meninggalkan apartemen Profesor dan membuat Sharikov penuh amarah. Ia berjanji akan membuat perempuan itu dipecat. Bormental menghajar kembali Sharikov dan mengancamnya untuk tidak berbuat apa-apa.

Suatu hari, salah satu pasien Philip Philipovich berkunjung dan menyampaikan sebuah kabar buruk kepadanya. Pasien tersebut menunjukkan sebuah kertas yang berisi bahwa Philip Philipovich bersama berusaha melakukan percobaan pembunuhan terhadap ketua komite perumahan dan menyuruh pelayannya Zina untuk membakar buku Engels yang merupakan ciri-ciri dari kaum Menshevik.

Ketika Sharikov kembali dari kerja, Philip Philipovich dan Bormental meminta dirinya untuk pindah dari apartemennya. Sharikov tentu saja tidak setuju dan menarik pistolnya ke arah Philip Philipovich. Dengan seketika, Philip Philipovich dan Bormental langsung menyerang Sharikov. Lalu, kesunyian melingkupi apartemen itu dan lampu-lampu masih menyala di ruangan Philip Philipovich, Bormental, dan Sharikov berada sepanjang malam.

Sepuluh hari kemudian, orang dari militer datang ke apartemen Philip Philipovich dan mendakwa bahwa Philip Philipovich, Bormental, Zina, dan Darya Pertrovna telah membunuh Sharikov. Philip Philipovich menjelaskan bahwa anjing mereka Sharikov masih hidup dan masih tinggal bersama mereka, kemudian Philip Philipovich mengundang orang militer tersebut untuk masuk dan melihat kondisi Sharikov yang sudah diubah kembali menjadi seekor anjing.

 

 

Ringkasan Novel ‘Lolita’ (Лолита) – Vladimir Nabokov

 

Lolita merupakan sebuah novel yang bercerita tentang pengakuan sebuah percintaan dan lika-liku batin antara seorang ayah tiri dengan anak tirinya yang masih di bawah umur. Tokoh utama dalam novel ini adalah Humbert Humbert yang merupakan seorang keturunan Perancis dan Austria. Humbert merupakan seorang lelaki terhormat dan beradab dari Eropa. Sejak kecil tahun Humbert dirawat oleh Bibi Sybil, kakak perempuan ibunya, karena sejak berumur tiga tahun ibu Humbert telah meninggal dunia. Saat berumur 13 tahun, Humbert pernah menjalin hubungan asmara dengan Annabel, namun tidak lama setelah itu Annabel meninggal dunia karena tifus. Setelah kematian Annabel, Humbert mulai tertarik secara seksual dengan anak-anak di bawah umur.

Sebelum Perang Dunia ke II, Humbert meninggalkan Paris dan pindah ke New York. Humbert bekerja sebagai seorang pengajar, penulis dan memiliki gelar Profesor. Di sana, ia bertemu Valerie, anak dari seorang Dokter dan menikah, namun Valerie selingkuh dan empat tahun kemudian pernikahan mereka berakhir. Tidak lama kemudian Humbert pindah ke Ramsdale dan menyewa tempat tinggal di rumah Lolita atau Dolores Haze yang saat itu berumur 12 tahun. Humbert memutuskan untuk tinggal di rumah tesebut karena ia melihat sosok Annabel dalam diri Lolita dan jatuh cinta dengan Lolita pada pandangan pertama. Ibu dari Lolita, Charlotte Haze diam-diam mencintai Hambert dan pernah menuliskan surat kepada Hambert untuk menikahinya atau dia harus keluar dari rumahnya. Oleh karena Hambert mencintai dan tidak ingin jauh dari Lolita, Humbert pun menikahi ibunya, Charlotte. Mereka menikah saat Lolita sedang berada di Summer Camp.

Di pertengahan penikahannya dengan Charlotte, Charlotte pun menemukan bukti di dalam catatan harian Humbert bahwa ternyata selama ini Humbert diam-diam mencintai Lolita. Charlotte sangat marah dan kecewa terhadap perlakuan Humbert sehingga ia menulis surat untuk saudaranya dan berencana untuk meninggalkan rumah dengan Lolita bersamanya. Akan tetapi, dalam perjalanan mengirim surat, Charlotte yang sedang tergesa-gesa dan marah tertabrak mobil dan meninggal dunia.

Pada saat Humbert menjemput Lolita di Summer Camp, ia mengatakan bahwa ibunya sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Humbert mengajak Lolita untuk menginap di hotel The Enchanted Hunters dan di situ juga mereka melakukan hubungan seksual. Di hotel ini Lolita bertemu dengan Clare Quilty, yang merupakan akuntan Charlotte, keponakan dokter gigi di Ramsdale, dan seorang pedofil dan pembuat film pornografi. Lolita mengetahui bahwa ibunya telah meninggal dunia setelah perjalanan pertamanya dengan Humbert. Sejak itu Humbert mulai mengajak Lolita untuk berpergian dengannya. Humbert dan Lolita melakukan hubungan percintaan dan seksual dalam perjalanan mereka. Mereka sempat tinggal dan menetap di Beardsley, yang di wilayah itu, Lolita bersekolah di sekolah khusus anak-anak perempuan. Lolita juga memainkan teater yang disutradarai oleh Clare Quilty. Hal ini menyebabkan Humbert menjadi sangat paranoid dan posesif dengan Lolita.

Suatu hari ketika Lolita sakit dan dirawat di rumah sakit, Quilty menjemput Lolita dan menyamar sebagai pamannya. Humbert yang di keesokan harinya mengetahui hal ini, sangat panik dan memiliki intuisi bahwa Quilty adalah orang yang menculik Lolita. Di masa-masa ini Humbert terus memantau dan meyakini bahwa Quilty selalu berpindah hotel dengan menggunakan nama samaran. Hal ini diketahuinya dari ciri khas dari sebuah tulisan di daftar nama hotel yang menurutnya adalah Quilty.

Tiga tahun kemudian, Lolita mengirimi Humbert surat untuk meminta uang karena krisis ekonomi yang di alami oleh Lolita. Dalam suratnya Lolita menuliskan bahwa dia telah menikah dan mengandung seorang anak yang akan dilahirkan saat Natal. Setelah membaca surat tersebut, Humbert segera mengunjungi Lolita dan mereka membicarakan kejadian di masa lalu bahwa benar ternyata selama ini Quilty yang telah menculik Lolita dengan sepengetahuan Lolita karena Lolita juga sangat mengagumi Quilty. Selain itu juga, meskipun Lolita telah bertambah dewasa, Humbert masih sangat mencintai dan berusaha mengajak Lolita agar mau tinggal bersamanya untuk selama-lamanya, namun Lolita menolaknya.

Setelah menemui Lolita, Humbert mendatagi Clare Quilty dan membunuhnya. Humbert menjadi semakin tidak bertanggung jawab dlam hidupnya. Ia ditangkap polisi karena melanggar peraturan lalu lintas. Saat di penjara, ia menuliskan pengakuan kisah cintanya dengan Lolita. Humbert meninggal dunia karena penyakit jantung yang dideritanya beberapa hari sebelum persidangannya, sedangkan Lolita meninggal dunia saat melahirkan anaknya.

 

Sumber:

Nabakov, Vladimir. 1995. LOLITA. Diterjemahkan oleh Anton Kurnia. Jakarta: PT SERAMBI ILMU SEMESTA